PoliticsUncategorized

Kiprah Politik Islam Di Nusantara

0

Dimulai dari Organisasi Syarikat dagang Islam yang tokohnya adalah Samanhudi dan HOS Tjokroaminoto yang memulai upaya kebangkitan nasional. SDI kemudian berubah jadi Syarikat Islam.

Yang menjadi cikal bakal lahirnya tokoh gerakan kanan/agamis seperti Kertosuwiryo (buyut dari Artis Mulan Jamela), Soekarno (Nasionalis) dan Semaun (Kiri) sebagai tiga murid HOS Tjokroaminoto, SI pun pecah jadi dua, SI putih dan SI merah yang kemudian menjadi PKI.

Terbaru SI juga pecah jadi SI dan SII. SI pernah dibubarkan dan di masa Jepang, para tokoh SI seperti H. Agus Salim, terlibat aktif pendirian MASYUMI dan di masa Soekarno, MASYUMI pun terbelah dengan keluarnya Nahdlatul Ulama dari MASYUMI. 

MASYUMI memiliki sayap seperti Gerakan Pemuda Islam (GPI), Serikat Tani Islam Indonesia/STII, Pelajar Islam Indonesia, terakhir sebagian tokoh MASYUMI mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam atau HMI tapi HMI menyatakan independen dan tak ingin disebut sayap MASYUMI.

Di masa Soekarno MASYUMI pun di bubarkan dan tokohnya seperti M. NATSIR memilih mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia disingkat DDII dan ia menjadi  belajar bagi kader kader calon pemimpin bangsa seperti Prof. Amien Rais, Yusril Ihza Mahendra, Abu ridho dll.

Tak lama kemudian Orba hadir dan tokoh-tokoh eks Masyumi mendirikan PARMUSI (Partai Muslimin Indonesia) serta setelah itu PARMUSI bersama PSII, Perti dan NU melebur jadi PPP (Partai Persatuan Pembangunan).

Di masa reformasi PPP terbelah, sebagian besar elemen NU keluar dari PPP setelah sebelumnya di periode akhir orba, NU memutuskan kembali ke khittah. Di tahun 1998/9 Gus Dur, KH. Makruf Amin, KH. Musthofa bisri mendirikan PKB (Partai Kebangkitan Bangsa), adik Gus dur bersama Putra pendiri NU atau pamanda Gus Dur yaitu KH. YUSUF HASYIM Mendirikan PKU (Partai Kebangkitan Umat), sebagian lagi mendirikan PNU, Dari PKB kemudian kelak sempat muncul PKNU, PekaDe, PKBN/Partai kemakmuran bangsa nusantara  pimpinan Yenny Wahid, PPP sendiri kemudian pecah lagi Partai Bintang Reformasi dan PBR pecah lagi di akhirnya.

Setelah NU keluar, keluarga MASYUMI dan PSII pun tak percaya PPP sebagai satu satunya partai penyalur aspirasi islam, PSII dan PSII 1905 pun bikin partai sendiri dan dari unsur MASYUMI seperti anwar hardjono, abdul qadir djaelani, fadli zon, eggy sudjana dkk sepakat mendirikan Partai Sendiri, kelompok besarnya dengan klaim didukung organisasi Persatuan Islam.

Dewan Dakwah dll mendirikan Partai Bulan Bintang, sebagian lagi tokohnya dua mantan ketua umum PB HMI mendirikan Partai politik islam MASYUMI pimpinan Abdullah Hemahua, lalu satunya Ridwan Saidi mendirika  Partai Masyumi Baru yang menjagokan Nurcholis madjid dan Bj. HABIBIE Sebagai capres 1999, setelah itu kelak dari rahim ini sempat muncul Partai Islam indonesia dan Partai Al Islam sejahtera Indonesia bentukan Abdul Qodir Djaelani dan Anwar hardjono, plus ormas GPMI (Gerakan Persaudaraan Muslim indonesi) oleh Alm. AHMAD sumargono yang pasca 2004 memilih independen.

Prof. AMIEN RAIS yang tadinya sepakat jadi ketua umum Partai PBB memilih tidak jadi dan memilih mendirikan Partai Amanat Nasional bersama tokoh haluan nasionalis lewat MARA (Majelis amanat rakyat) seperti Bara Hasibuan yang non muslim, Goenawan Muhammad, Faisal Basri, tokoh Dewan Dakwah AM Fatwa dan lain-lain yang tadinya disebut PAB (Partai Amanat Bangsa) lalu PAN.

Tak semua tokoh pergerakan reformasi setuju, seperti ketua umum KAMMI memilih jadi anggota DPR dari utusan PPP bahkan di kemudian ke PKS. Serta dari unsur gerakan ikhwan mendirikan PK (Partai Keadilan) yang kelak melahirkan PKS dan GARBI.

Politik islam era Orba semakin menuju keemasan di akhir periode Orba dengan hadirnya ICMI (Ikatan Cendikiawan muslim Indonesia) dan munculnya jendral peduli islam seperti Prabowo, Kivlan Zen yang alumni PII dan Sjafrie Syamsudin meski cendikiawan Nurchalis Majid menggencarkan slogan “Islam yes partai islam no” .  Saat 1999, kelompok islam plus Golkar bikin Poros Tengah mengegolkan Gus Dur sebagai Presiden, lalu PPP dan kelompok politik islam di era Megawati.

Di 2004 kelompok islam modernis mengajukan Amien Siswono setelah sebelumnya Amien mencoba gandeng dua figur yaitu Gus Dur dan Hidayat Nur Wahid bikin Poros Penyelamat Bangsa, walau sekjen hidayat di PKS, Anis memilih bersama Wiranto. sementara warga NU terbelah ke berbagai capres karena selain Amien-Siswono, empat capres-cawapres lain ada Figur NU nya yaitu KH. Hasyim muzadi, Gus sholah/Adik Gusdur, Hamzah Haz dan JK.

Gus Dur sendiri berpasangan dengan Marwah Ibrahim politisi Golkar tadinya mau maju tapi KPU tak meloloskan. Pasca 2004 kelompok islam seperti Fadli Zon dan ahmad muzani bersama Prabowo mendirikan Partai Gerindra yang nasionalis.

Di Era SBY-JK semua partai islam bersatu dukung pemerintah yaitu PKS, PAN, PPP, PBB dan PKB selama dua periode walau ada goncangan seperti PKB alami dualisme, PAN perang kubu Amien-Hatta vs SB, PBB Yusril di keluarkan dari kabinet dan yusril-Kaban nyaris jadi pesakitan hukum, PPP alami dualisme dan ketumnya ditersangka, PKS presidennya kena OTT KPK, di 2014 semua partai islam kecuali PKB mendukung Prabowo dan PKB mendukung JK.

Jokowi yang berpasangan dengn JK (Tokoh NU dan HMI) pun menang. Lalu PPP alami dualisme dan bergabung ke pemerintahan Jokowi-JK, PAN sempat bergabung lalu keluar mendukung Prabowo-Sandi. Di 2016, gelombang umat islam mentersangkakan Ahok dengan kasus penistaan agama dengan lokomotif Imam besar FPI Habib Rizieq shihab lewat GNPF MUI dengan gerakan 411,212,313 dst yang diikuti Fadli Zon dan Fahri Hamzah.

Di jelang 2019 partai islam atau berbasis massa islam seperti PPP, PBB dan PKB mendukung jokowi dan makruf amin (pendiri PKB dan pernah di PKNU) walau tadinya Mahfud MD atau Airlangga yang dibidik kuat, NU selain Makruf, Said aqil dan Cak Imin juga dideklare siap maju jadi cawapres.

Sementara gerakan politik islam melalui PA 212, Mengajukan KH. Abdul Shomad/UAS dan Salim Segaf Al jufri sebagai cawapres ulama walau pasca UAS tak maju ada figur alm. KH. Arifin ilham dan Abdullah gymnastiar yang ditawarkan. Namun Prabowo memilih pengusaha muslim Sandiaga Uno.

Pasca Pilpres melalui Amien Rais dan Eggy Sudjana kelompok islam menggelorakan GNKR (Gerakan Nasional kedaulatan rakyat) untuk melawan kecurangan pemilu. Sementara selain itu kabar di 2019 Partai islam seperti PKS menghadapi perpecahan, Anis matta, fahri dkk mendirikan Gerakan Arah Baru Indonesia. Terakhir tersisa ketua dewan kehormatan PAN Amien Rais, PKS, Gerindra dan ketua dewan pertimbangan Partai Berkarya Titiek Soeharto yang mendukung Prabowo – Sandi. (Taufik)

Comments

Leave a reply

Your email address will not be published.

You may also like